Well~ Hujan di pagi hari membuat tidurku bertambah nyenyak.
Tanpa sadar, jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 6 pagi dan aku masih nyenyak dalam tidurku.
"kaaaaa! Kakaaaakkk!" terdengar Ibu memanggilku dari lantai dasar rumahku. Aku mendengarnya, tapi aku menghiraukannya.
"kak!!! Bukannya hari ini ada ospek di kampus? Udah jam berapa ini, kamu belum bangun" seru ibuku dari bawah.
Sontak saja aku langsung kaget melihat jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 6.30, langsung saja aku bergegas untuk bersiap-siap.
"mati gue telat nih!!!! Aduh udahlah mandi sederhana aja" batinku berbicara. Haha yaaaaa aku memang agak sedikit ceroboh dalam hal ini, bangun yang akan telat jika tak pasang alarm di handphone. Mandi sederhana ala ku adalah cuci muka dan menggosok gigi.
Jam di dinding menunjukkan pukul 7.00, setelah memastikan semuanya siap. Aku langsung keluar kamar dan menuruni tangga.
"kak.. Sarapan duluuuuu" pinta ibuku.
"aduh bu aku udah telat, nanti aku makan di kampus aja.. Dah ibuuu" pamitku kepada ibuku.
Belum sempat aku menutup pintu mobilku, adikku berlari tepat ke arahku.
"kak Kiaaaaaa bareng doooong" pintanya memelas.
"aduuuhh deeek kakak udah telat niiihhhhh, cuma punya waktu setengah jam lagi, sementara kalau anter kamu itu kakak harus bolak balik, macet pula" cerocosku memperjelas dan ditambah "kamu bareng ayah aja yaaaahhh please sekali ini aja dek, kamu telat kan paling dimarahin guru dikiiit" jelasku.
"tapi aku ada pikeettt, ayah berangkat jam setengah 8 kaaaa..." belum selesai adikku memelas. Aku langsung tutup pintu dan menyalakan mobil.
"byeeeee heheheh maaf ya dek" potongku meledek.
"dasar peliiiittt!!!!!" teriak adikku.
"duh sial!! Dikit lagi padahal, pake macet segala" batinku menggerutu.
Aku Kia, usiaku 17 tahun dan baru saja lulus dari sekolahku dan melanjutkannya ke salah satu Universitas ternama di Depok.
Jam tanganku menunjukkan pukul 7.40 pagi "mati gueeeee!!! Telat beneran kan! Ini di mana sih gedung fakultas sastranya???" omelku di dalam mobil sambil mencari-cari. "perasaan kemarin ada di sebelah sini, kok gak ada yah?" lama aku menggerutu "Ah!! Ini diaaa akhirnyaaaa"
Pukul 8.00 pagi. Akhirnya aku memarkirkan kendaraanku dan langsung berlari ke arah halaman di mana tempatku di ospek.
"maaf kak saya telat" kataku dengan nafas yang tersenggal kepada kakak senior yang ada di dekat barisan.
"kamu dimaafin, nama kamu siapa?" jawabnya dingkat.
"Kia Permana" jawabku.
Batinku sambil mengatur nafas "aaahh untung aja kakaknya baik hehehehe"
Setelah masuk barisan, nama kami.. Yaitu maba (mahasiswa/i baru) dipanggil satu persatu dari depan.
"yaaaang namanya Kia Permana tolong maju kedepan, dan blablablabla" dipanggilnya kami, sekitar mungkin 10 orang atau lebih diminta untuk maju ke depan.
"lo semua.. Tau kenapa dipanggil kedepan?" tanyanya super jutek.
"engggaak kaaaak" jawab kami serentak.
"lo itu semua dateng telat!!! Gue paling males dengerin alasan-alasan basi" diperjelasnya dengan jutek. "sekarang lo semua, bersihin fakultas kita" pinta senior galak ini.
"ha??? Kita semua kak? Fakultas kan luas banget kak" tanya 1 orang cowok yang memang dari paras sih lumayan...
"bukan kita? Tapi lo sama temen2 lo. iyalah!!! Kenapa? Makanya kalau niat dateng ya jangan telat!" jawab si senior jutek.
Tanpa basabasi kami langsung meninggalkan halaman dan langsung mengerjakan apa yg di minta oleh sang senior.
"woy!! Kalian boleh balik ke sini pas jam makan siang" teriak senior.
"emang kamvret!! Pake segala lupa pasang alarm, ibu juga tumben banguninnya siang amat. Jadi telat dan disuruh jadi babu kan gue" gerutuku sambil mengambil kaleng yang dibuang sembarangan.
"yaelaaahhh baru disuruh mungutin sampah aja udah lenjeh" sahut 1 maba yang mendapat hukuman sama denganku. Eh, dia yg tadi nanya ke senior galak kan?
"ya kenapa? Masalah buat lo?"
"lenjeh! Kenalin, gue Angga" ia memperkenalkan dirinya dengan sangat percaya diri.
"dih, udah ngatain, minta kenalan pula" jawabku dan langsung meninggalkannya.
Akhirnya 3 hari berlalu dan ospekpun selesai. Aku sebagai mahasiswi yang masih baru, jelas masih mentaati peraturan-peraturan kampusku, termasuk datang tepat waktu.
"gila!! Gue sekelas sama bocah tengil satu ini" batinku kaget melihat muka songong dari Angga.
Asli, ini orang sok ganteng parah.
Singkaaattt......
1 semester sudah ku lalui dengan lancar, dan dengan IP yang lumayan.
Di semester 2, rasanya aku mulai terbiasa dengan kegiatan kampus.. Aku yang mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yaitu basket, sangat amat terkejut karna disemester ini si anak tengil itu bergabung di UKM ku.
Malapetakaaa!!!! Batinku kaget.
Angga yang makin kesini makin diangung-agungkan sama cewek2 di kelas karna wajahnya yg lumayan, makin merasa di awang-awang. Semua cewek di kelas ia jadikan gebetan. Lalu aku??? Aku tak sedikitpun menyukainya, bahkan haram untukku untuk mengobrol panjang dengannya.
"wey! Eh lo ikut ukm ini juga hahahah wah seruuu yaaah, kok gue baru tau yah" ucapnya sok akrab denganku.
Aku? Tak sedikitpun menggubrisnya.
"woilaah ditanya kayak patung, diem aja" ucapnya lagi kepadaku.
"oh ngomong sama gue? sorry yah gue kira lo ngomong sendiri" timpalku agak jutek dan coba menghindarinya.
"iyalah, yg ada di depan gue sekarang kan lo" jawabnya rada kesal. "lo tinggal di mana? Kayaknya di kelas, cuma lo yg belum gue tau alamatnya"
"gue? Di Jakarta" jawabku singkat sambil merapikan perlengkapan basketku. Kebetulan hari ini aku tak membawa kendaraanku sendiri, dan terpaksa harus naik kereta untuk sampai di rumah.
"wih arah Jakarta? Sama dong~ gue juga arah sana" sahutnya agak senang. "bareng yuk!"
"oh? Haha makasih" jawabku
"okay sip" singkatnya.
*suara handphoneku berbunyi menandakan ada panggilan masuk* "halo? Kenapa Yan?" kataku kepada Ryan ditemanku ujung telp, yang sedang mengkhawatirkan keadaan Ibunya yang sedang di rawat di Rumah Sakit di daerah Jakarta.
"lo bisa kesini sekarang? Nyokap gue nanyain lo nih, kangen katanya.. Kesini yaaah please banget Kia" ucapnya memelas.
Aku dan Ryan memang teman sedari dulu, bahkan sahabat sehobiku, menggambar.
"gue juga niat kesana kok hari ini, tapi gue baru beres basket bentar yah gue otw kesana" jawabku dan langsung menyudahi obrolan karna kebetulan handphoneku mati karna habis baterai.
"yah kamvret pake segala abis nih baterai" batinku menggerutu.
Belum lama aku berjalan ke luar lapangan menuju gerbang kampus, tiba-tiba saja.
"HUJAAAN!!!! AH" batinku menggerutu lagi. "yaudah lah naik taksi aja" batinku menyeru.
Hampir 15menit aku menunggu taksi, tak kunjung datang dan hujanpun masih terus turun tak ada habisnya.. Hingga akhirnya seorang satpam berkata "kan hari ini lagi demo neng, jadi gak ada angkutan.. Naik ojeg aja neng" katanya menyarankan.
"ha? Oh iyaaa saya lupa, makasih ya pak udah ingetin" ucapku kepada satpam berterimakasih.
"yaelah tau gini gue naik ojeg aja dari tadi" pikirku marah pada diri sendiri karna lupa akam demo hari ini.
"pak ojeg ke RS Fatmawati yah" pintaku kepada satu-satunya ojeg yang tersisa di sekitar gerbang kampusku.
"yah neng, ujan-ujanan gak apa nih neng? Abang gak bawa jas hujan" jelasnya.
Setelah mendengar kata-kata itu aku mengurungkan niat untuk naik ojeg saat hujan dan memilih menunggu hingga hujan reda.
2 jam berlalu...
*tin tiiiiiin* suara klakson mobil tepat di sebelahku. Sial! Itukan Angga.
"wey! Masih belum pulang juga? Ayok bareng aja"
Teriaknya dari dalam mobil.
"gak deh makasih" jawabku menolak.
Tiba-tiba saja aku teringat akan Ryan, dan aku berjanji untuk menjenguk Ibunya hari ini, sedangkan ini sudah pukul 4 sore.. Jam besuk pun hanya sampai jam 6 sore.
"yakin? Daripada lo lumutan di sana" tawarnya meledek kepadaku.
Duh terpaksa nih "gue masuk" kataku sambil berlari kecil ke arah pintu masuk mobil.
Ah! Sial! Ini semua seperti sudah direncanakan, mulai dari tak bawa mobil, lupa akan sopir2 angkutan yang demo, dan apalagi ini??? Hujan di musim kemarau?
Hampir 1 jam berlalu tak ada sedikit atau sepatah katapun keluar untuk menjadi obrolan, baik dariku atau dari Angga.
Hingga akhirnya "Gue turun di RS Fatmawati aja" kataku kepada Angga.
"loh kok ke RS?" tanyanya heran.
"gue mau jenguk nyokap temen gue" jawabku singkat. "btw, makasih yah tebengannya" kataku tanpa melihat wajah Angga.
Tanpa basabasi akupun langsung keluar dari mobil dan meninggalkan Angga.
Entah apa yang ada di benakku sampai bisa meng-iyakan tawaran Angga sebulan lalu untuk mengantarku sampai ke RS. Rasanya.. Hari ini, detik ini, aku mulai menyesalinya, karna.....
*handphoneku berdering tanda pesan masuk*
"lo lagi apa? Kia udah makan?"
*batinku*
"sial!! Kenapa sih si Angga ini terus aja sms gue dengan kalimat-kalimat yang gak penting banget, asli! Gue tambah nyesel rasanya karna diantar dia ke RS bulan lalu"
Yaaa, sebab itulah aku jadi menyesal.
*dikelas*
"lo udah sarapan?" tanya Angga tiba-tiba kepadaku.
"belum" jawabku cuek.
Damn! Beberapa menit kemudian, Angga datang dengan membawa bubur ayam. Tepat sekali!! Dan Angga langsung berikan kepadaku.
"ini, buat lo"
"gue??? Oh haha makasih" jawabku heran, dan langsung saja bubur itu ku berikan pada teman sebelahku. Menurutku itu adalah salah satu bentuk penolakan perhatian darinya yang sangat bagus.
Aku pikir setelah hari itu, Angga akan berhenti mengirimiku pesan dan membelikanku tetekbengek agar aku menerima perhatiannya. Ternyata? Tidak sama sekali.
Angga terus saja begitu sampai bulan berikutnya. Aku? Entah kesetanan apa, aku sedikit meresponnya. Pikirku tak salah jika hanya berteman, mungkin memang ia ingin berteman.
*Bulan berikutnya*
Entah mengapa, rasanya Angga benar-benar mendekatiku dengan maksud tertentu. "Ah! Gila!!! Gak gak gak! Gue gak boleh nih mikir yang kayak gitu" sahut pertengkaran batin antara pikiran dan hatiku.
*tepat di kampus*
"wey! Lo lagi deket sama Angga yah?" tanya salah satu temanku Leny, sambil berbisik.
"ha???? Hahahahah gaklah!!! Najis banget gue deket sama cowok playboy macam dia, gak lah! Gak akan deket apalagi suka!" jawabku kaget dan berentet.
"awas lo! Jilat air ludah lo sendiri yaaah" ancam Leny.
Aduuuuhhh bodoh!! Ngapain juga gue bilang kayak gitu coba?
Ah! Bodolah! Toh gue juga gak akan suka sama si cowok sok cool itu. *pikirku menenangkan*
Tapi... Hatiku?
*seminggu kemudian*
Seperti sebulan ini, aku sedikit-sedikit mulai meng-iyakan ajakan Angga untuk menemaninya hanya untuk sekedar makan malam ataupun keperluan lainnya.
Hari itu...
"Kia mau nonton apa jadinya?" tanya Angga.
"terserah aja" sahutku
"Jurassic world? Gimana?" tawar Angga kepadaku.
"boleh" jawabku meng-iyakan.
*2 jam berlalu*
Angga mengajakku, untuk permainan melempar bola basket di salah satu tempat permainan di mall itu. Kebetulan sekali, memang kita memiliki hobi di bidang olahraga yang sama.
Belum lama kami bermain, tiba-tiba saja Angga..
"Kia? Aku nyaman sama kamu" katanya dengan menatapku yang sedang tercengang sambil memegang bola basket.
"yaaaaa terus????" sahutku terheran masih sambil memegang bola basket.
Lalu Angga menjelaskan "aku suka kamu, aku gatau bilang dari mana, yang jelas aku suka kamu dan mau jadi lebih daripada sekedar teman kamu"
"maksudnya lebih dari teman? Sahabat?" tanyaku berpura-pura tak mengerti.
"bukan, maksudkuuu...." omongan Angga terpatah-patah. "maksudnyaaa.. Kamu mau jadi pacarku?" tanya Angga sambil melihatku.
Beberapa detik aku terdiam mematung tak bergerak sama sekali apalagi menjawab tanya dari Angga. Shock! Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya merasa terkejut atas apa yang dikatakan Angga.
"Kia?" panggil Angga.
Sontak aku terkejut dan merasa linglung "ha?? Iya ?? Kenapa?" kataku.
"kamu gak apa?" tanya Angga.
Aku masih terdiam bingung harus menjawab apa, karna jujur saja.. Aku menyukai Angga, aku merasa senang didekatnya. Tapi, aku juga gak mungkin karna Angga itu sudah terkenal laki-laki yang playboy di kampusku.
Tapi bodohnya aku!!!
"Kia? Gimana? Kamu mau jadi pacarku?" tanya Angga lagi.
Yaaaa!! Bodoh saja, aku berkata "iya aku mau"
Well!! Seminggu kemudian, tak lama setelah kami resmi berpacaran. Sepertinya kabar ini cukup cepat tersebar, 1 jurusan pun akhirnya mengetahuinya, dan aku? Aku menjadi sasaran empuk bagi cemooh dan ledekan teman-temanku. Tetapi tidak untuk sahabat-sahabatku, yang tetap mendukungku.
Angga yang terkenal dengan playboynya dan kelakuannya yang sering mendekati perempuan-perempuan di kampus, ternyata bisa aku patahkan.
Hahaha bukan... Bukan patahkan orangnya, tetapi aku berhasil mematahkan anggapan tersebut.
Terbukti, Angga sangat amat benar-benar menyukaiku, dan sekarang bahkan sangat amat menyayangiku. Bahkan hubungan kami sudah berjalan hampir 2 tahun.
Angga hanya perlu seseorang yang mengerti dan memahami dirinya. Aku gak perlu tanya "mana bukti Angga menyayangiku" karna pada akhirnya, dengan berjalannya waktu.. Angga selalu membuktikan hal itu sampai sekarang dan seterusnya bahkan selamanya. Aku yakin itu.
Aku? Aku tidak pernah menyesal sama sekali akan keputusanku menerima Angga.
Walaupun aku harus menjilat air liur ku sendiri.
Jujur saja, aku sangat menyayanginya.
*hari ini*
"honey~ aku sayang kamu"
"aku sayang kamu lebih banyak banyak banyak" jawab Angga.
-End-
Ps: Well, don't judge someone by her/his cover yaaaah hihi
Karna kamu gak akan benar-benar tahu bagaimana seseorang itu sampai kamu mau menerimanya menjadi salah satu yang ada andil di dalam hidupmu, entah teman, sahabat, atau pacar hihi



















