*ding dong*
kutekan bel di depan rumahnya.
*ding dong* sekali lagi. Masih belum ada tanggapan dari dalam.
"okay mungkin sekali lagi, kalau sekali lagi belum ada yang bukain, aku pulang aja deh"
*tiba-tiba dari belakang* "dor!!!!"
"sial!!! Kamvret! Wahahahah kamu nih asli iseng parah" aku menggerutu kesal dengan tawa.
Yang barusan tadi ngagetin itu, orang paling nyebelin sejagat raya. Reza.
Iyah... Dia itu Reza, cowok super nyebelin yang pernah ada dan yang paling parah.. dia itu adalah pacarku.
"hehehehe maaf oney~ hahahahah tapi seru kaaaaann kagetnya" serunya meledek dengan tawa.
Dengan masih mengelus-elus dada karna kaget, aku menginjak kakinya.
"kaget mana ada yang seru? Oneng!"
"duh sakit oney" ujarnya sedih sambil kesakitan.
Kebetulan kostku tidak jauh dari rumahnya, bisa dibilang, kami ini pacar 5 langkah hehehe "nih aku buatin sarapan, ini dimakan sarapannya habis itu kamu mandi, terus kita langsung ngampus"
"siap kapten!" serunya dengan patuh.
Aku dan Reza adalah sepasang kekasih yang bisa dibilang lumayan lama, nggggg... sekitar satu tahun lebih mungkin. Reza dengan sifat petakilan juga manjanya, dan aku dengan sifat diamku juga sedikit manja tapi tetap menjaga agar terlihat berwibawa sebagai wanita yang bisa dibilang beranjak dewasa.
Kami yang sama-sama tinggal sendiri (hidup menjadi anak kost) jauh dari orang tua, makin membuat Reza jadi anak super manja jika bersamaku.
Saat itu...
"aku bete nih oney". Yap! Oney adalah panggilan sayangnya untukku.
"hmm bete kenapa?" sahutku sambil tetap mengerjakan tugas-tugasku, juga laporan hasil mengajarku. Aku memang kuliah sambil mencari sedikit masukan uang, demi kebutuhan sehari-hari.
"oneeeyyyy ck aku beteeee nihhhh" rengeknya.
"iyaaaaaaahhhh sayaaang bete kenapa?" dengan mencoba sabarnya aku menyahuti.
Kemuadian dengan isengnya Reza terus berkata "oneeeyyy akuuuu beteeee"
"kamu bisa gak sih? Diam sebentar? Aku ini lagi repot, kalau mau cerita ya langsung aja cerita.. Gak usah bertele-tele" jawabku dengan agak menggertak kesal. Entah apa yang ada di pikiranku, tanpa rasa bersalah sedikitpun aku langsung melanjuti kesibukanku, dan Reza... Entah~ dia pergi begitu saja dan aku pun tak mempedulikannya.
*Ke-esokan harinya*
"wey! Kok kamu di sini? Gak kelas nih?" tanyaku ke Reza yang terlihat murung di koridor kampus.
"nggg aku lagi gak mood ngampus, kamu mau temenin aku?" pintanya memelas.
Dengan herannya, aku membalas pertanyaannya cukup lama "hmmm gimana yaaaah~ ini lagi jam kuliah kan yaaang.."
"jadi, kamu mau atau gak?" kata Reza dengan wajar nanarnya.
*Batinku* "kalau ikut Rezaaaa hmm pasti mau ada yg dibahas tentang yg kemarin deh ck"
Jujur saja, sebenarnya aku mulai jenuh dengan sikap dan sifat kekanakannya dan yang selalu memperbesar masalah-masalah kecil. Tapi, kalau gak diturutin pasti dia ngambek.
"akuuuu... masuk kelas aja deh, kamu bisa kan sendiri?" jawabku tak enak.
"yaaaaahh kamu kenapa sih? Aku kan lagi butuh kamu blablablablablaaaa" jawabnya panjang lebar.
*batinku lagi* "benar apa yang kupikirkan"
Akhirnya dengan sedikit terpaksa "iyah iyah yaudaah ayok, jangan ngambek yaaaah" selesai tawar menawar untuk ikut dengannya atau tidak, Reza membawaku kesuatu taman... Dan yaaaaa benar dugaanku, dia mulai nyerocos panjang tentang 'AKU'.
*Senin 27 September 2016, pukul 9 pagi*
"aduh! Jalan liat-liat dong!!" marahku sambil mengelus-elus dahiku karna terbentur bahu seseorang.
"eh gak apa? Lo gak apa? Sorry sorry yah habis lo tiba-tiba muncul di belokan koridor kampus begini sih" ucapnya dan aku masih merunduk kesakitan.
Dengan tegas aku langsung mengangkat kepalaku dan memampangkan wajahku di hadapannya.
"lo tuh! Udah nabrak bukannya minta maaf baik-baik, malah nyerocos kayak banci" omelku, tapi dengan herannya orang ini justru menatapku dengan serius seakan mengingat sesuatu.
"Rilla???!!!???" teriaknya, dan aku mulai heran.
"ngggg lo??? Siapa yah???" heranku mulai memperhatikan dan mengingat wajah itu. "astaaaagaaa!!! Refa!??"
"iyaaah ini gue refaaaaa, gilaaa! Gak nyangka lo ngampus di sini juga?"
Dengan singkat akhirnyaaaa... Obrolan kami pun berlanjut dengan saling bertukar nomor telp.
Refa, yaaaa.. Dia itu cowok yang memang sangat kebetulan dan akupun baru mengetahuinya setelah insiden tadi pagi, kalau kami berdua ini kuliah di Universitas yang sama. Dia juga teman semasa SMA ku dulu~ hm bukan teman, bahkan sangat dekat lebih dari sekedar teman. Mungkin bisa dibilang TTM atau pacaran tapi gak kesampean yah? Hihi
Setelah insiden hari itu..
Berbulan-bulan berlalu dengan aku masih berhubungan baik dengan Refa dan sepertinya membuatku mulai merasa nyaman dengannya.
Reza? Ya.. Reza masih dengan sifat yg kekanakannya yang sedikit-sedikit mengeluh akan sifat dan sikapku.
Jujur saja, sejak kehadiran Refa di hidupku (lagi).
Aku semakin menjauh dari Reza, bukan karna aku yang mulai nyaman dengan Refa, tetapi juga banyaknya kegiatan juga pekerjaanku. Terutama karna jenuhnya aku dengan sifatnya Reza.
*tepat di hari anniversary ku dengan Reza*
"oney??? Kamu hari ini mau ke mana?" tanya di ujung telepon dengan lembut.
"di rumah aja sih~ ya paling aku sibuk sama laporanku aja" jawabku sedikit malas.
"aku mau ajak kamu keluar.. Mau yaaaahhhh pleeeaseeeeee" sahutnya memelas di ujung sana.
"kemana? Tapi aku gak bisa pulang malam loh" sahutku, tetap dengan malas dan mencoba memikirkan alasan agar Reza berpikir untuk membatalkan.
"ada deeehhh~ ini kan anniv kita yang ke 2 tahun oneeeyyy.. Kamu lupa yah?" katanya murung.
Astaga!! Aku benar-benar lupa. Tapi jujur, aku tidak terlalu peduli akan hal itu.. Karna sejujurnya aku sudah ada janji dengan Refa sore ini.
"ohhhh ahahahah enggak dong.. Iyah ingat kok" jawabku berpura-pura.
"YEEEAAAHHH JADI BISA KAAAN???"
"hmm iyaaah sip hehehe" jawabku berpura-pura senang.
Tunggu! Tiba-tiba.....
*ding-dong* bel kost ku berbunyi dari luar.
"eh sebentar yah ada orang di depan, kayaknya sih paling kurir" izin ku ke Reza yang berada di ujung telp.
"okay deh~" jawab Reza dengan gembira, dan aku pun langsung meninggalkannya di ujung telepon.
Dengan sangat terkejutnya sekaligus herannya aku.. "eh loh kok? Refa???? Loh kok kamu pagi-pagi gini, bukannya....."
"iyah aku sengaja datang pagi, biar bisa perginya agak lama sama kamu hehe nggg kamu gak ada acara kan hari ini" ucapnya selesai memotong ucapanku.
"oh hehehe ohhh nggg gak kok gak adaaaa gak adaaaa, kalau gitu aku siap-siap dulu yah"
Seketika aku lupa janjiku dengan Reza, juga Reza yang sedang menunggu di ujung telp, entah masih menunggu atau sudah terputus teleponnya.
Singkat...
Aku sampai di suatu tempat, entah.. Aku tak pernah ke sini sebelumnya. Karna memang tak pernah terpikirkan olehku untuk datang ke cafe sepagi ini. Tapi, jujur ini tempat yang sangat indah~
Suasananya yang sejuk dan bisa dibilang sedikit tua untuk cafe, but still classic.
Ternyata Refa sudah mempersiapkan ini semua, untukku! Yap! Untukku.
Tempat yang classic, sejuk.. Ini semua sudah dipersiapkan. Kenapa?
Karna saat kami selesai mencicipi hidangan yang sudah dipesan, aku dengan frappuccino dan cheesecake ku. Lalu, Refa dengan secangkir cappuccinonya, juga sepotong tiramisunya.
"Rilla?"
"hm yah??" jawabku sedikit terkejut karna sedang asik menikmati cheesecake ku.
Tanpa basa-basi "kamu mau jadi pacarku?" ucapnya dengan tanpa ragu.
"ha? Apa" timpalku bingung.
"kamu mau jadi pacarku??? Maaf, kalau ini tiba-tiba. Aku sudah lama suka kamu, mungkin sayang... Dulu aku kira, aku hanya sekedar suka.. Tapi, setelah beberapa bulan ini dekat sama kamu, aku merasa hal yang beda. Aku ingin lebih dari sekedar teman yang menyukaimu, nyatanya aku ingin memilikimu.. Aku suka kamu, aku sayang kamu Rilla. Kamu mau kan jadi pacarku" ucapnya memperjelas sekaligus menjelaskan.
Entah apa yg ada dibenakku, aku berkata "aku mau".
Ya!! Aku menyelingkuhi Reza.
Dan janjiku dengan Reza hari itu??? Aku berbohong padanya dengan beralasan temanku dirawat dan butuh aku untuk mendampinginya, juga karna repot aku harus buru-buru akhirnya aku lupa mengabarinya.
Untungnya Reza bisa memahaminya walaupun agak kesal.
Seminggu setelah kami resmi menjadi sepasang kekasih. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membahas ini semua (antara aku, Refa dan Reza) kepada Refa. Dengan handphoneku, aku mengiriminya pesan.
"Refa" pesan singkatku terkirim, tak lama ia membalas.
"iyah Rilla sayang?" jawabnya.
"maaf"
"loh? Kok maaf?"
"sebenarnya ada yg mengganggu pikiranku beberapa hari ini"
"Reza?" balasnya. Aku langsung bingung entah harus membalas apa.. Tak lama aku menerima pesan singkat lagi.
"kamu berhak memilih. Pilihlah yang membuat kamu nyaman dan bahagia.. Kalaupun akhirnya kamu tidak memilihku, tak apa. Tapi yg jelas aku sangat menyukaimu sejak pertama aku melihatmu di SMA, dan sekarang aku sangat menyayangimu" pesannya.
Aku dilema. Reza yang kekanakan atau Refa yang dewasa dan membuatku nyaman akan hal itu?
"aku butuh waktu" balasku singkat pada Refa.
Akhirnya dua hari setelah aku memikirkan hal tersebut. Aku datang menemui Reza yang sedang berlatih basket di kampus.
"hey" sapaku kepadanya
"eh sayang, kamu? Kenapa? Tumben mau kesini loh hahaha ada angin apa nih??" jawabnya senang juga heran.
"heheheheh gak sih iseng aja"
"ohya aku mau...." belum selesai aku bicara, Reza memotong kalimatku.
"astagaaa!!! Aku perlu hubungi mama nih. Tapi hp aku habis baterai. Nggg aku boleh pinjam handphonemu?" potongnya buru-buru.
"ohh ituuu nggg boleh.. Ini. Aku ke toilet bentar yah"
"okay sip" jawabnya.
*Sampai di depan pintu toilet*
Bodoh !! Aku lupa menghapus percakapanku dengan Refa. Aduuuhh bodoh!!! Ngapain juga aku pinjami dia handphoneku dan aku meninggalknannya dengan handphoneku???? Gimana kalau dia cek handphoneku? Aduh!!! Okay okay tenang Rilla tenang, Reza bukan tipe cowok yang suka cek-cek handphone.
Batinku menenangkan diriku sendiri.
Aduh mati aku!! Gimana kalau tiba-tiba Refa menguhungi ku????
Langsung saja aku buru-buru keluar dari toilet dan menghampiri Reza.
"nih, makasih yaaah oney" ucapnya lembut.
"oh hehe iyah makasih, eh sama-sama maksudnya" ucapku kepadanya.
Ah.. Lega~ Reza tak ada marah ataupun bete.. Berarti tak ada apa-apa.
"Rilla?" panggilnya dengan lembut kepadaku.
"ah? Iyaaa??" jawabku heran, kerna Reza sangat jarang memanggilku dengan namaku.
"kamu tau? Aku sangat sangat sangat menyanyangimu, seberapapun galaknya kamu, cerewetnya kamu, bencinya kamu ke aku karna aku manja, sibuknya kamu. Aku tetap menyayangimu, bagaimanapun kamu, dan tak pernah sedikitpun aku berpikir untuk cari penggantimu. Tapi aku, mungkin rasa sayangku ini belum cukup di mata kamu. Kamu lebih baik dengannya... Dia yg lebih dewasa dan bisa membimbingmu. Aku akan terus menjadi temanmu" jelasnya kepadaku dengan sangat jelas hingga aku tak bisa berbicara apapun selain "MAAF". Lalu Reza pergi begitu saja meninggalkanku duduk terpenganga sendiri.
4 bulan berlalu...
Aku pikir memang dulu Refa lebih baik dibandingkan dengan Reza.
Ternyata aku salah besar!!! Refa tidak lebih baik dibanding Reza.. Dulu yang aku kira Refa pribadi yang dewasa, justru mengekangku lebih dan menjadikanku seperti apa yg dia mau. Aku bukanlah diriku saat bersamanya.
Entah, aku mulai menyesali semuanya dan ingin kembali ke Reza.
6 bulan berlalu...
Refa kejam, ternyata dia menikamku.. Bukan! Bahkan membunuhku secara perlahan.
Dengan mengubahku menjadi yang ia mau, lalu ia pergi meninggalkanku dengan menjalin hubungan baru dengan wanita lain di belakangku.
Setengah tahun aku bersamanya, ternyata hanya di awal Refa berlaku atau tepatnya berpura-pura menyayangiku. Selebihnya? Tidak!
Malu. tapi rindu dengan Reza yang selalu memanggilku dulu..
Terbesit dipikiranku untuk menghubunginya, tapi sayang...
Saat aku ingin menghubunginya lagi, ternyata Reza sudah menemukan penggantiku, dengan memasang foto di berbagai akun media sosialnya bersama kekasihnya yang baru.
Aku sangat menyesal...
Melepaskan seseorang yang ternyata amat berarti untukku, demi seseorang yang hanya sekedar hadir untuk rasa jenuhku.
Reza yang memang manja tapi sangat mengerti akan diriku. Reza yang selalu ada untukku dalam keadaan apapun..
Reza, lelaki yang ternyata sangat amat aku cintai...
Aku tak ingin merusak kebahagiannya... Reza yang sudah menemukan "oney" nya yg baru.
Lalu, aku??
Aku sangat amat menyesal, dan baru menyadari itu semua setelah semua terjadi.
Aku yang mengecewakan Reza dengan sikapku, dan begitu saja meninggalkannya demi Refa.
Sesal? Memang harus disesali.
Tapi pelajaran yang lebih berarti..
"dirimu bukanlah dirimu jika sedang jenuh.. Tapi sayangmu tetaplah sayangmu yang akan selalu menutupi jenuhmu"
At last, semua hubungan akan baik kan? Manusiawi memang jika merasa jenuh.
Tapi jenuhmu akan menjadi sesalmu jika jenuhmu menjadikanmu orang lain..
Tapi jenuhmu akan menjadi bahagiamu jika kamu tetap menjadi dirimu saat dalam jenuhmu..
Ps : Jangan pernah jadikan 'jenuh' sebagai alasan untuk kamu bisa berselingkuh dari pasanganmu yaaah hihi


0 komentar:
Posting Komentar